Selasa, 24 November 2009
Plus Minus Chatting
Diantara dampak plus-minus dari media chatting adalah sebagai berikut :
1. Awal kali para chatter ini menganggap chatt adalah hal iseng, tapi lama – ke lamaan akan memberikan rasa candu, yang ujung-ujung lupa waktu akan tugas nya sehari-hari.
2. Memberikan kepuasan dikala anak merasa bosan dengan rutinitas dirumah, karena bisa bertegur sapa dan bercanda dengan teman baru nya di dunia maya.
3. memberikan pengaruh pada kepribadian anak, karena cenderung mengikuti pola atau karakter lawan chatting nya.
4. Membayakan dirinya sendiri, mayoritas pechatter, akan merasa penasaran dengan lawan chatting nya yang berujung pada tukar no hp atau rumah dan kopi darat atau bertemu di dunia nyata. Hal inilah yang kebanyakan dimanfaatkan oleh orang hidung belang / pelaku pedofilia untuk mencari korbannya. Maka kita sebagai orang tua harus bisa mengawasi anak kita dari bahaya ini.
5. media ini rentan dan membahayakan karena sekarang ini media chatting sudah sangat canggih, dengan adanya chatting lewat Handphone yang ditawarkan oleh operator seluler baru.
6. Dampak yang paling berat itu ketagihan. Yup! selama nggak berlebihan sih, nggak ada masalah. Tapi kalau chattingnya terus-terusan (keterusan), tidak mengenal waktu, pasti akan ada dampak negatifnya, misal: banyak pekerjaan lain yang terbengkalai, yang seharusnya sudah kelar beberapa hari sebelumnya, jadi ditunda-tunda ngerjainnya.
So what gitu loh?!
Sebagai bagian dari Teknologi Informasi, internet memang ibarat pisau bermata dua. Disatu sisi, teknologi ini bisa bermanfaat apabila digunakan untuk melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat, seperti: mencari bahan-bahan pelajaran sekolah, diskusi mata pelajaran, mencari program beasiswa, konsultasi dengan pakar, belajar jarak jauh, dan mencari metode-metode pengajaran berbasis multimedia. Namun sayangnya penggunaan internet justru malah bergeser kepada hal-hal yang negatif dan ini harus menjadi perhatian seluruh komponen masyarakat solo dan solowesi dan sekitarnya (Ups!), Karena bagaimanapun kita tetap membutuhkan internet sebagai sarana informasi dan komunikasi yang bersifat global, namun disisi lain kitapun juga harus siap untuk melakukan antisipasi untuk mengatasi dampak-dampak negatifnya. Dan inilah persoalan bersama kita.
posted by:
http://mawarputihku.wordpress.com/2008/11/28/bismillah/
Dampak Internet
mencoba untuk membidik persoalan lain yang secara implisit terlihat nyata namun berdampak underground. Persoalan baru tersebut adalah dampak penggunaan internet bagi para pelajar. mencoba untuk melontarkan sebuah wacana dan berbagai fakta tentang sebuah persoalan baru di kota-kota besar yang juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Walaupun masih berupa gejala awal, namun apabila tidak segera diatasi tentu akan berkembang menjadi “penyakit kronis” yangt makin sulit untuk diatasi.
Kita akui bahwa sosialisasi penggunaan Internet di Indonesia bisa dibilang relatif sukses. Hal tersebut juga terjadi di Kota Sragen, dimana saat ini para pelajar mulai dari SD-SMU dan terlebih para Mahasiswa sudah sangat familier menggunakan internet. Kita bisa melihat bagaimana dominasi para pelajar dan mahasiswa di warung-warung internet Kota Sragen. Mereka sudah tampak percaya diri (PD) berkunjung ke warung internet dan tanpa canggung lagi bisa bermain internet. Hal tersebut sangatlah berbeda dengan kondisi sekitar 6 tahun yang lalu, dimana para orang dewasa lebih dominan menjadi pengguna internet.
Dalam pengamatanku, bahwa saat ini telah terjadi pergeseran profil pengguna internet dan juga pergeseran orientasi pemanfaatannya. Pengguna internet terbesar saat ini adalah para pelajar SLTP diikuti oleh pelajar SLTA dan kalangan mahasiswa justru menempati urutan ketiga (kecuali di warnet yang berdekatan dengan kampus). Ada gejala menarik yaitu mulai maraknya pelajar SD bermain internet dan sudah “berani” nongol diwarung internet. Para orang tua tentu saat ini harus “rela” merogoh kocek lebih banyak untuk memenuhi keinginan anak-anaknya untuk bermain internet baik dirumah ataupun di warnet. Harapan orang tua tentulah ingin agar si-anak tidak ketinggalan jaman dan dengan ber-main internet si-anak bisa bertambah pintar. Namun benarkah demikian ?
Makin meratanya pengguna internet disatu sisi memang sangat menggembirakan, namun pergeseran orientasi penggunaan internet sudah sangat memprihatinkan. Dalam pengamatanku, bahwa Para pelajar SLTP, SLTA dan SD sebagian besar (>75%) menggunakan internet “hanya” untuk bermain GAME dan CHATTING. Dan rata-rata mereka rela menghabiskan waktu 3-5 jam/ hari dengan mengeluarkan uang Rp.7000 – Rp.30.000/hari untuk bermain internet. Dan “aneh” nya kegiatan tersebut didukung oleh para orang tua. Aku yakin bahwa pergeseran orientasi penggunaan internet tersebut belum ditangkap oleh para orang tua, sehingga setiap anaknya meminta uang berapapun untuk bermain internet selalu diberikan. Padahal yang terjadi adalah tidak ada unsur pendidikan apapun yang bisa didapatkan dari bermain GAME & CHATTING. Memang tidak semua pelajar “hanya” menggunakan internet untuk bermain GAME dan CHATTING. Diantara mereka juga menggunakan internet untuk sarana mencari pengetahuan, namun yang melakukan hal itu jumlahnya tidaklah banyak. GAME & CHATTING bisa membawa effect “kecanduan”. Dan apabila sudah kecanduan tentu effect sampingnya akan membuat anak menjadi malas belajar, malas mengaji dan setiap ada kesempatan selalu berusaha untuk bermain GAME & CHATTING. Dampak negatif bermain GAME hampir sama dengan dampak permainan Play Station dimana seseorang yang sudah kecanduan akan betah seharian bermain dan bahkan lupa makan, lupa minum dan lupa kalau hari esok masih ada. Sedangkan effect bermain CHATTING mungkin bisa digambarkan dengan permainan INTERKOM yang marak sekitar 20 tahun yang lalu. Dimana hampir semua orang “lupa daratan” dan setiap hari kerjanya hanya bermain intercom (jika sudah memegang mic maka orang cenderung akan malas berangkat sekolah, malas berangkat kerja, malas membatu orang tua, malas untuk mengaji malas makan, malas minum dan sebagainya). Begitu juga dengan CHATTING.. para pelajar yang melakukan kegiatan ini menganggap waktu 5 jam sama dengan 10 menit. Dan mereka cenderung memanfaatkan CHATTING untuk sekedar ngobrol kesana-kemari dengan teman kencannya di internet dan bahkan tidak menutup kemungkinan juga mengarah kepada pembicaraan yang “jorok-jorok”. Effect permainan GAME & CHATTING ini justru lebih berbahaya dari kekhawatiran kita sekitar 5 tahun lalu tentang maraknya situs-situs porno. Karena berdasarkan pengamatan, ternyata situs porno hanya berefek pada euforia dan dalam waktu singkat mereka sudah akan bosan. Namun effect GAME & CHATTING adalah “Effect Candu” yang bisa membuat penggunanya menjadi ketagihan dan ini yang sangat berbahaya bagi dunia pendidikan kita. Beberapa kejadian di Indonesia menunjukan ada kasus perkosaan oleh teman CHATTING, penipuan oleh teman CHATTING. Karena tidak menutup kemungkinan bahwa “teman baru” yang didapat di dunia maya itu pada akhirnnya dilanjutkan dengan “jumpa darat” dan bahkan ada juga yang langsung menjadi teman kencan. Aku juga prihatin bahwa para pelajar SLTP itu tanpa disadari menjadi korban dari para penjahat yang memanfaatkan sarana CHATTING untuk mencari mangsa. Hal tersebut bisa saja terjadi karena seorang yang terbiasa CHATTING bisa dengan mudah mengelabui lawan CHATTING nya. Misalnya seorang “PLAY BOY” berusia 35 tahun, bisa saja dengan mengaku berusia 17 tahun untuk menarik perhatian seorang pelajar SLTP yang berusia 15 tahun. Cukup dengan menguasai bahasa “gaul di internet” seorang Om-Om berusia 45 tahun bisa saja mengaku berusia 17 tahun. Bagi mereka yang penting bisa “akrab” dan bisa menyenangkan lawan CHATTING nya sambil mencari peluang dan mengatur strategi untuk bisa menjalankan aksi jahatnya.
Sebagai bagian dari Teknologi Informasi, internet memang ibarat pisau bermata dua. Disatu sisi, teknologi ini bisa bermanfaat apabila digunakan untuk melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat, seperti: mencari bahan-bahan pelajaran sekolah, diskusi mata pelajaran, mencari program beasiswa, konsultasi dengan pakar, belajar jarak jauh, dan mencari metode-metode pengajaran berbasis multimedia. Namun sayangnya penggunaan internet justru malah bergeser kepada hal-hal yang negatif dan ini harus menjadi perhatian seluruh komponen masyarakat di Bogor, Karena bagaimanapun kita tetap membutuhkan internet sebagai sarana informasi dan komunikasi yang bersifat global, namun disisi lain kitapun juga harus siap untuk melakukan antisipasi untuk mengatasi dampak-dampak negatifnya. Dan inilah persoalan bersama kita.
Mumpung semua ini masih berbentuk gejala, alangkah baiknya pemerintah, DPRD, dunia pendidikan, pengamat “IT” dan para pengamat sosial kemasyarakatan duduk bersama untuk membahas dan mencari solusi untuk mengatasinya. “Virus” yang membuat mereka “kecanduan” dan “virus” yang bisa menjebak mereka kedalam sebuah permasalahan. Yang paling penting adalah bagaimana kita mengemas teknologi ini agar mempunyai muatan pendidikan namun tetap menarik untuk dikunjungi oleh para pelajar sebagai pengguna internet (netter) mayoritas pada saat ini.
Posted by anisnila, dunia pii, dampak internet..
http://74.125.153.132/search?q=cache:ZAhajyvZYMYJ:dunia.pelajar-islam.or.id/dunia.pii/209/dampak-internet.html+dampak+internet+bagi+pelajar&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id
Selasa, 17 November 2009
10 tanda kecandua FB
Manfaat facebook memang tak cuma untuk pergaulan, tapi juga sarana komunikasi, mencari pekerjaan, hingga kampanye. Sayangnya kesibukan mengutak-atik facebook membuat banyak orang kini lebih banyak menghabiskan waktu ketimbang bekerja. Tak heran bila banyak perusahaan yang mulai menerapkan kebijakan mengeblok situs ini di kantor. Sebuah penelitian juga menunjukkan adanya kaitan antara facebook dengan meningkatnya angka perceraian di Inggris dan Australia.
ADVERTISEMENT
Nah, apakah Anda termasuk dalam orang yang hidupnya mulai dikendalikan facebook? Simak 10 tanda berikut ini.
1. Facebook telah menjadi homepage internet di komputer atau laptop Anda.
2. Anda mengubah status lebih dari dua kali sehari dan rajin mengomentari perubahan status teman.
3. Daftar teman Anda sudah melebihi angka 500 orang dan setengahnya hampir tidak dikenal.
4. Bila sedang jauh dari komputer, Anda mencek facebook melalui BlackBerry, iPhone, atau ponsel pintar lainnya.
5. Rajin membaca profil teman lebih dari dua kali sehari, meski ia tidak mengirimkan pesan atau men-tag Anda di fotonya.
6. Anda mengubah profile foto lebih dari 12 kali.
7. Anda membaca artikel ini sambil mencek facebook.
8. Anda membersihkan "wall" agar terlihat sudah lama tidak masuk ke fb.
9. Anda menjadi anggota lebih dari 10 grup dan merespons setiap undangan meski sebenarnya tak berminat.
10. Anda mengubah status hubungan hanya untuk meningkatkan popularitas di facebook.
(dari: Yahoo.co.id)
Jatuh cinta, bisakah dari dunia maya?
Menurut Erich Fromm (1900-1980), manusia memiliki kebutuhan eksistensial, yakni kebutuhan akan persatuan. Jawaban sepenuhnya terletak pada tercapainya kesatuan antarpribadi dan kesatuan melalui perpaduan dengan pribadi lain dalam cinta. “tanpa cinta, kemanusiaan tidak akan ada,” kata Fromm.
Kata Internet saat ini sangatlah dikenal oleh semua kalangan, dari anak-anak sekolah dasar hingga orang lanjut usia. Internet diawali pada tahun 1969 sebagai ARPANET, yang dibangun oleh ARPA (United States Department of Defense Advanced Research Projects Agency) di Amerika.
Selama ini orang–orang yang menjalin suatu hubungan percintaan adalah orang-orang yang sudah saling kenal, bertatap muka dengan pasangannya. Bagaimana dengan orang-orang yang menjlin hubungan percintaan dari dunia maya alias di dunia internet?
Cinta adalah rasa kasih sayang yang lembut dan mendalam serta perhatian terhadap seseorang yang timbul dari kebaikan hati atau rasa untuk memiliki. Perasaan cinta itu dimulai dari mata, sedangkan rasa suka dimulai dari kata. Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin berbagi bersama seseorang. Cinta adalah sebuah kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, yaitu berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih saying membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut.
Menurut Erich Fromm, ada emapt syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu pengenalan, tanggung jawab, perhatian dan saling menghormati.
Setelah kita berkenalan dengan seseorang didunia maya, terutama lawan jenis, hal yang pertama kali ditunjukkan adlah sikap perhatiannya lalu sikap saling menghormati antar keduanya. Tanggung jawab diabaikan dalam percintaan di dunia maya karena tak ada hal yang harus dipertanggung jawabkan jika cinta didunia maya tersebut telah hadir.
Seseorang yang menjalin sebuah hubugan percintaan di dunia maya ialah orang-orang yang tidak percaya akan kemampuan dirinya, tidak percaya akan keadaan fisiknya yang telah di berikan oleh Tuhan YME. Telah dikatakan diatas, perasaan cinta itu dimulai dari mata. Lalu bagaimana bisa timbul rasa cinta jika kita tidak pernah mengetahui bahwa orang yang kita cintai dari dunia maya tersebut memang benar-benar ada? Karena keseringan orang tersebut berinteraksi dengan orang lain di dunia maya, maka timbullah rasa suka. Rasa suka dimulai dari seringnya kita berinteraksi dengan lawan jenis, sedikti memberikan perhatian yang lama-lama menjadikan kita tempat untuk mencurahkan isi hatinya. Yaa.. cinta bisa dimulai dari sini. Ketika kita menjadi pendengar yang setia, menjadi teman yang bisa berkorban waktu untuk Online demi mendengarkan keluh kesahnya dan orang itu pun melakukan hal yang sama dengan yang kita lakukan terhadapnya, rasa suka itu akan muncul dengan sendirinya. Jika salah satu dari kita tidak sedang Online (chatting atau facebook), pasti ada sedikit rasa gelisah, bertanya-tanya sedang apa orang tersebut, mengapa ia tidak online, dan berbagai macam pertanyaan hadir dalam benak kita.
Intinya cinta merupkan anugrah yng diberikan oleh Tuhan untuk umatnya. Cinta memang tak memandang apa-apa, tidak lagi memperhitungkan nilai untung dan rugi dan tak bersyarat. Cinta yang sejati tak mengenal timbal balik, tetapi suatu pengorbanan tanpa pamrih karena cintanya mutlak seklaipun belum bertemu secara nyata. Cinta lebih mengarah pada konsep abstrak yang lebih mudah dialami daripada dijelaskan.
